Breaking News

​Jangan Hanya Bawa Pulang Piala, Bawa Pulang Nilai Kepramukaan dari Ompo

SOPPENG — Piala mungkin menjadi simbol dari sebuah kemenangan. Namun dari sebuah perkemahan, ada banyak hal yang nilainya jauh lebih panjang daripada sebuah trofi.

Empat hari berada di Kawasan Wisata Ompo menjadi ruang belajar tersendiri bagi 1.328 peserta Perkemahan Pramuka Kwarran Lalabata Tahun 2026. Mereka datang dari 57 pangkalan pendidikan, membawa semangat untuk berkompetisi, tetapi juga pulang dengan pengalaman yang tidak diperoleh hanya dari ruang kelas.

Perkemahan yang berlangsung 26 hingga 29 Agustus itu tidak sekadar menjadi panggung untuk menentukan siapa yang terbaik dalam berbagai perlombaan. Di balik tenda, kegiatan kelompok, pertandingan dan aktivitas di alam terbuka, peserta belajar mengatur diri, bekerja bersama, menghadapi tantangan, mematuhi aturan dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.

Di sinilah makna perkemahan menjadi lebih luas.

Kemenangan tidak selalu berbentuk piala. Keberanian untuk tampil, kemampuan menerima kekalahan, kesediaan membantu teman, kedisiplinan menjalankan tugas hingga kemampuan menjaga lingkungan juga menjadi bagian dari keberhasilan.

Berbagai perlombaan yang digelar memang menghadirkan persaingan. Ada Menara Pandang, Bom Air, Trash Percussion, Isyarat Gerakan Pramuka, Pionering Buta, Nyanyi Solo, Tarompa, Tiang Bendera Kreatif, Lari Balok, Tari Kreasi dan sejumlah kegiatan lainnya.

Namun kompetisi tersebut berjalan beriringan dengan nilai sportivitas, persaudaraan dan kerja sama yang menjadi bagian penting dalam pendidikan kepramukaan.

Belajar Bertanggung Jawab dari Hal Sederhana

Salah satu pesan kuat yang muncul dari perkemahan ini adalah soal lingkungan.

Kehadiran Green Camp dan lomba kebersihan tenda membuat peserta tidak hanya dituntut mampu membangun dan menjaga tempat tinggal sementara, tetapi juga memahami bahwa kebersihan merupakan tanggung jawab bersama.

Peserta diajak mengenal pemilahan sampah dan melihat bahwa sampah anorganik seperti plastik, kertas dan logam dapat memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik.

Konsep “Memilah Sampah, Menabung Emas” menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kebiasaan peduli lingkungan sejak usia sekolah.

Hal tersebut membuat pengalaman di Ompo tidak berhenti pada aktivitas perkemahan. Ada kebiasaan yang diharapkan terbawa ketika peserta kembali ke sekolah, rumah dan lingkungan masing-masing.

Ompo Menjadi Ruang Belajar di Luar Kelas

Berada jauh dari rutinitas pembelajaran di dalam kelas memberi kesempatan kepada peserta untuk belajar melalui pengalaman langsung.

Mereka harus hidup bersama dalam suasana perkemahan, membagi tugas, berkomunikasi dengan kelompok, menjaga perlengkapan, mengikuti jadwal kegiatan hingga menyelesaikan berbagai tantangan dalam perlombaan.

Situasi seperti itu secara tidak langsung melatih kemandirian, kepemimpinan, tanggung jawab dan kemampuan bekerja sama.

Karena itu, perkemahan menjadi lebih dari sekadar kegiatan rekreasi. Alam terbuka berubah menjadi ruang pendidikan yang mempertemukan pembelajaran, pengalaman, persahabatan dan pembentukan karakter.

Ketika Tenda Dibongkar, Nilainya Jangan Ikut Hilang

Pada akhirnya, tenda akan dibongkar. Lapangan kembali sepi. Perlombaan selesai dan piala dibawa oleh para pemenang.

Tetapi nilai yang diperoleh selama empat hari seharusnya tidak ikut berakhir.

Disiplin harus kembali hadir di sekolah. Semangat gotong royong harus terlihat di lingkungan. Kepedulian terhadap kebersihan harus menjadi kebiasaan. Keberanian menghadapi tantangan harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Begitu pula dengan sikap menghargai orang lain, menerima hasil kompetisi dengan lapang dada dan tetap bekerja sama meskipun berbeda kelompok.

Itulah alasan mengapa keberhasilan sebuah perkemahan tidak cukup dihitung dari jumlah piala yang terkumpul.

Piala memiliki tempat sebagai penghargaan atas prestasi. Tetapi pengalaman, persahabatan, kedisiplinan, kemandirian dan karakter merupakan bekal yang jauh lebih panjang untuk dibawa pulang.

Perkemahan Pramuka Kwarran Lalabata 2026 akhirnya ditutup pada 29 Agustus. Namun perjalanan nilai-nilai yang ditanamkan selama kegiatan itu baru saja dimulai.

Dari Ompo, para peserta diharapkan pulang bukan hanya membawa cerita tentang kemenangan, tetapi juga membawa kebiasaan baru: lebih mandiri, lebih disiplin, lebih peduli, lebih mampu bekerja sama dan lebih berani menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Sebab, piala hanya menjadi tanda bahwa seseorang pernah menang. Sementara karakter menjadi bukti bahwa sebuah pengalaman benar-benar memberi perubahan.


Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - JEJAK REALITA