SOPPENG — Tidak semua inovasi pemerintah hadir dalam bentuk layanan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Sebagian justru bekerja di balik layar, memastikan berbagai gagasan yang lahir dari aparatur pemerintah tidak berhenti sebagai program sesaat, tetapi tercatat, terukur, dan dapat dikembangkan.
Peran tersebut dijalankan melalui Sistem Informasi Database Riset dan Inovasi Daerah (SIMDARA) yang dikembangkan di lingkungan Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Soppeng.
SIMDARA dirancang sebagai sistem pendataan riset dan inovasi daerah. Melalui platform tersebut, berbagai inovasi yang dikembangkan perangkat daerah, Puskesmas hingga sekolah dapat dihimpun dalam sebuah basis data.
Kehadiran sistem ini menjawab salah satu kebutuhan penting dalam pengelolaan inovasi pemerintah daerah, yakni tersedianya dokumentasi yang terstruktur.
Kepala Bappelitbangda Kabupaten Soppeng, Andi Agus Nongki, S.IP., M.Si., menjelaskan bahwa sistem tersebut membantu proses penjaringan inovasi yang dilakukan pemerintah daerah.
Setiap inovasi yang dilaporkan oleh inovator dapat dikumpulkan melalui sistem sehingga pemerintah daerah memiliki data yang lebih terorganisasi. Data tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan dalam melakukan pembinaan, penilaian maupun evaluasi terhadap perkembangan inovasi.
Bagi pemerintah daerah, pendataan bukan sekadar urusan administrasi. Informasi mengenai sebuah inovasi diperlukan untuk mengetahui persoalan yang ingin diselesaikan, proses pelaksanaannya, pihak yang terlibat, penerima manfaat hingga hasil yang telah dicapai.
Tanpa dokumentasi yang baik, berbagai inovasi yang tersebar di banyak unit kerja berpotensi sulit ditelusuri kembali.
Dari Uji Coba hingga Digunakan untuk Penjaringan
Pemanfaatan SIMDARA mulai mendapat perhatian di Kabupaten Soppeng pada 2023. Pada tahap awal, aplikasi tersebut masih dalam proses uji coba.
Memasuki 2024, pemanfaatannya mulai diarahkan untuk mendukung penjaringan inovasi dari berbagai perangkat daerah.
Langkah tersebut berjalan seiring dengan semakin banyaknya kebutuhan terhadap data inovasi. Pemerintah daerah tidak hanya perlu mengetahui berapa banyak inovasi yang telah dibuat, tetapi juga perlu memiliki gambaran mengenai jenis, pelaksana, manfaat dan perkembangan setiap inovasi.
Dalam pelaporan inovasi tahun 2023, misalnya, Bappelitbangda Kabupaten Soppeng menghimpun 24 inovasi yang berasal dari 11 organisasi perangkat daerah.
Angka tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya muncul dari satu sektor. Setiap perangkat daerah memiliki peluang untuk menghasilkan pembaruan sesuai dengan persoalan dan kebutuhan yang mereka hadapi.
Hal serupa juga terjadi di Puskesmas dan lingkungan sekolah.
Karena itu, pengelolaan inovasi membutuhkan sistem yang mampu menampung informasi dari berbagai sumber dalam satu tempat.
Bukan Sekadar Aplikasi
Keberadaan SIMDARA tidak dapat dipisahkan dari proses pembinaan inovasi yang dilakukan Bappelitbangda.
Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Daerah Bappelitbangda Soppeng, Andi Dewi Siswati, SE, turut terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan penguatan kapasitas inovator dan pengembangan inovasi daerah.
Pada 2024, Bappelitbangda menggelar workshop bagi para inovator. Kegiatan tersebut antara lain membahas indikator inovasi serta tata cara memasukkan data ke dalam SIMDARA.
Peserta berasal dari sejumlah perangkat daerah, Puskesmas dan sekolah penggerak.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa aplikasi hanyalah salah satu bagian dari ekosistem inovasi. Di belakang sistem terdapat proses yang lebih panjang, mulai dari menemukan persoalan, merumuskan gagasan, menjalankan inovasi, mencatat hasil hingga melakukan evaluasi.
Dengan pola tersebut, inovasi diharapkan tidak hanya menghasilkan sebuah program baru, tetapi juga memiliki data pendukung yang dapat menunjukkan keberadaannya dan manfaat yang diberikan.
Menjadi Basis Data untuk Melihat Peta Inovasi
Data yang dihimpun melalui SIMDARA dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan inovasi di Kabupaten Soppeng.
Pemerintah daerah dapat melihat perangkat daerah yang aktif melakukan inovasi, bidang yang menjadi perhatian, jenis inovasi yang sedang dikembangkan hingga potensi inovasi untuk diperluas atau direplikasi.
Informasi tersebut juga memiliki kaitan dengan proses pengukuran Indeks Inovasi Daerah (IID) yang dilakukan pemerintah pusat.
Dalam proses penilaian inovasi, keberadaan dokumen dan bukti pendukung menjadi bagian penting. Dengan pencatatan yang dilakukan sejak awal, perangkat daerah akan lebih mudah menyiapkan informasi ketika inovasinya masuk dalam proses penilaian.
Upaya penguatan ekosistem inovasi itu turut dilakukan melalui berbagai kegiatan lain, seperti penjaringan, penilaian, pameran serta presentasi inovasi daerah.
Pada 2024, Kabupaten Soppeng berhasil meraih predikat Sangat Inovatif dalam pengukuran Indeks Inovasi Daerah.
Capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan pemerintah daerah dalam membangun budaya inovasi sekaligus meningkatkan kemampuan aparatur dalam menciptakan pembaruan di lingkungan kerja masing-masing.
Menjaga Agar Inovasi Tidak Hilang
Salah satu tantangan dalam pengembangan inovasi bukan hanya menciptakan gagasan baru, tetapi memastikan gagasan tersebut tetap terdokumentasi dan dapat dipelajari kembali.
Sebuah inovasi bisa saja lahir dari persoalan sederhana di sebuah unit kerja. Namun, jika tidak dicatat dengan baik, pengalaman dan hasil dari inovasi tersebut dapat sulit dimanfaatkan oleh unit lain.
SIMDARA memberikan ruang untuk menyimpan informasi tersebut.
Ketika inovasi didaftarkan, pemerintah memiliki rekam data mengenai inovasi tersebut. Perkembangan selanjutnya juga dapat menjadi bagian dari dokumentasi yang dapat digunakan untuk kebutuhan evaluasi maupun pengembangan.
Dengan demikian, database bukan hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan daftar inovasi.
Lebih jauh, data tersebut dapat menjadi bahan untuk melihat perjalanan sebuah inovasi: dari gagasan awal, pelaksanaan, hasil yang diperoleh hingga peluang pengembangannya.
Membangun Kebiasaan Baru
Keberlanjutan SIMDARA pada akhirnya sangat bergantung pada konsistensi pengelolaan data.
Aplikasi akan memberikan manfaat maksimal apabila inovator secara aktif memperbarui informasi dan perangkat daerah menjadikan dokumentasi sebagai bagian dari proses kerja.
Hal ini menjadi penting karena inovasi pemerintahan terus bergerak. Program yang saat ini masih dalam tahap pengembangan dapat berubah, diperluas, atau bahkan menjadi model yang dapat diterapkan di tempat lain.
Karena itu, pencatatan perlu berjalan beriringan dengan pelaksanaan inovasi.
Bagi Bappelitbangda, pengelolaan inovasi merupakan sebuah rangkaian yang saling berkaitan. Inovasi ditemukan, dikembangkan, didokumentasikan, dinilai dan kemudian dievaluasi berdasarkan manfaatnya.
SIMDARA menjadi salah satu instrumen yang menopang rangkaian tersebut.
Posisinya memang tidak selalu terlihat oleh masyarakat karena tidak berhadapan langsung dengan pengguna layanan. Namun, sistem ini memiliki fungsi strategis dalam membantu pemerintah daerah memahami apa saja inovasi yang telah lahir di lingkungan Pemkab Soppeng.
Pada akhirnya, nilai penting SIMDARA terletak pada kemampuannya menjaga agar inovasi memiliki rekam jejak.
Gagasan tidak hanya berhenti pada pelaksanaan sebuah kegiatan. Ia dapat meninggalkan data yang kemudian digunakan untuk mengukur hasil, menemukan kekurangan, memperbaiki pelaksanaan dan menentukan kemungkinan pengembangannya.
Dengan cara tersebut, berbagai inovasi yang lahir dari perangkat daerah, Puskesmas maupun sekolah dapat ditempatkan dalam satu ekosistem yang lebih terarah.
SIMDARA bukan sekadar database. Ia menjadi salah satu fondasi pengelolaan inovasi agar setiap pembaruan yang lahir di Kabupaten Soppeng memiliki catatan, bukti, dan peluang untuk terus dikembangkan.
0 Komentar